Kemajuan teknologi komunikasi telah mengubah pola kehidupan masyarakat modern, terutama di kalangan remaja. Handphone tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup. Remaja menggunakan HP untuk media sosial, permainan daring, hiburan, pembelajaran, hingga aktivitas sosial lainnya. Namun penggunaan yang berlebihan dapat memunculkan perilaku kecanduan.
Perilaku kecanduan HP ditandai dengan ketidakmampuan individu mengontrol penggunaan handphone, rasa cemas ketika jauh dari HP, serta penggunaan yang berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Fenomena ini banyak ditemukan pada peserta didik di sekolah menengah. Siswa menjadi kurang fokus belajar, sulit berinteraksi secara langsung, dan mengalami penurunan kualitas hubungan sosial.
Dalam perspektif bimbingan dan konseling, perilaku kecanduan HP perlu ditangani secara sistematis melalui pendekatan konseling yang tepat. Salah satu pendekatan yang relevan adalah Konseling Rasional Emotif atau Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) yang dikembangkan oleh Albert Ellis. Pendekatan ini menekankan bahwa perilaku bermasalah muncul akibat pola pikir irasional yang dimiliki individu.
Melalui REBT, konselor membantu siswa mengubah keyakinan irasional seperti “Saya harus selalu memegang HP agar merasa tenang” menjadi pemikiran yang lebih rasional dan sehat. Dengan demikian, siswa dapat mengontrol perilaku penggunaan HP secara lebih baik.
1. Pengertian Konseling Rasional Emotif
Konseling Rasional Emotif merupakan pendekatan konseling yang berfokus pada hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku. Menurut Albert Ellis, gangguan emosional bukan disebabkan oleh peristiwa itu sendiri, tetapi oleh keyakinan irasional individu terhadap peristiwa tersebut.
Model dasar REBT dikenal dengan konsep ABC:
- A (Activating Event): peristiwa yang dialami individu.
- B (Belief): keyakinan atau cara berpikir individu terhadap peristiwa.
- C (Consequence): konsekuensi emosional dan perilaku yang muncul.
Dalam perkembangannya ditambahkan:
- D (Disputing): membantah pikiran irasional.
- E (Effect): munculnya keyakinan baru yang rasional.
Pendekatan ini bertujuan membantu individu berpikir logis, realistis, dan mampu mengendalikan emosi serta perilaku negatif.
2. Pengertian Kecanduan Handphone
Kecanduan handphone adalah kondisi ketergantungan individu terhadap penggunaan HP secara berlebihan hingga mengganggu fungsi sosial, akademik, maupun psikologis. Perilaku ini sering ditandai dengan:
- Penggunaan HP dalam durasi yang sangat lama.
- Kesulitan menghentikan penggunaan HP.
- Merasa gelisah ketika tidak memegang HP.
- Mengabaikan tugas dan tanggung jawab.
- Menurunnya interaksi sosial secara langsung.
Pada remaja, kecanduan HP dipengaruhi oleh kebutuhan eksistensi diri, tekanan sosial, hiburan, serta kurangnya kontrol diri.
3. Faktor Penyebab Kecanduan HP
Beberapa faktor yang menyebabkan perilaku kecanduan HP antara lain:
- Faktor psikologis (kesepian, stres, kecemasan).
- Faktor lingkungan sosial.
- Pengaruh media sosial dan game online.
- Kurangnya pengawasan orang tua.
- Keyakinan irasional terhadap kebutuhan menggunakan HP.
Dalam perspektif REBT, faktor utama munculnya kecanduan adalah pola pikir irasional, misalnya:
- “Saya akan tertinggal jika tidak membuka media sosial.”
- “Saya tidak bisa bahagia tanpa HP.”
- “Semua orang harus selalu merespons pesan saya.”
Pikiran tersebut menyebabkan individu sulit mengontrol penggunaan HP.

Penerapan Konseling Rasional Emotif dalam Mengatasi Kecanduan HP
Konseling REBT dilakukan melalui beberapa tahap berikut:
1. Identifikasi Masalah
Konselor membantu siswa mengenali tingkat kecanduan HP yang dialami, dampak negatifnya, serta situasi yang memicu penggunaan berlebihan.
2. Mengungkap Pikiran Irasional
Siswa diarahkan mengidentifikasi keyakinan yang menyebabkan ketergantungan terhadap HP. Misalnya:
- takut dianggap tidak gaul,
- takut tertinggal informasi,
- merasa tidak nyaman tanpa media sosial.
3. Disputing (Membantah Pikiran Irasional)
Konselor menantang pola pikir tersebut dengan pertanyaan logis:
- Apakah benar hidup akan hancur tanpa HP?
- Apakah semua informasi di media sosial penting?
- Apakah penggunaan HP berlebihan membuat hidup lebih baik?
Tahap ini bertujuan mengganti pola pikir negatif menjadi lebih rasional.
4. Menanamkan Pikiran Rasional
Konselor membantu siswa membangun keyakinan baru seperti:
- “Saya tetap bisa bergaul tanpa selalu bermain HP.”
- “Saya dapat mengontrol penggunaan HP.”
- “Belajar dan interaksi langsung lebih penting.”
5. Pembentukan Perilaku Baru
Siswa diajak menerapkan perilaku sehat seperti:
- membatasi waktu penggunaan HP,
- membuat jadwal belajar,
- meningkatkan aktivitas sosial langsung,
- mengikuti kegiatan positif di sekolah.
Efektivitas Konseling REBT terhadap Kecanduan HP
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konseling REBT efektif menurunkan tingkat kecanduan gadget pada remaja. Teknik ini membantu siswa:
- meningkatkan kontrol diri,
- mengurangi kecemasan,
- memperbaiki pola pikir,
- meningkatkan disiplin belajar,
- memperbaiki hubungan sosial.
Pendekatan REBT juga cocok diterapkan di sekolah karena bersifat edukatif, praktis, dan berorientasi pada perubahan perilaku.
Peran Guru BK dalam Penanganan Kecanduan HP
Guru bimbingan dan konseling memiliki peran penting dalam membantu siswa mengatasi kecanduan HP melalui:
- Layanan konseling individu.
- Konseling kelompok.
- Bimbingan klasikal tentang literasi digital sehat.
- Kolaborasi dengan orang tua.
- Monitoring perilaku siswa di sekolah.
Guru BK juga perlu menjadi fasilitator dalam membangun budaya penggunaan teknologi secara bijak.
Kesimpulan
Perilaku kecanduan handphone menjadi salah satu permasalahan serius pada remaja di era digital. Kecanduan HP dapat berdampak negatif terhadap aspek akademik, sosial, maupun emosional peserta didik. Konseling teknik Rasional Emotif merupakan pendekatan yang efektif dalam membantu siswa mengatasi kecanduan HP karena berfokus pada perubahan pola pikir irasional menjadi rasional.
Melalui tahapan identifikasi masalah, disputing, dan pembentukan keyakinan rasional, siswa mampu meningkatkan kontrol diri terhadap penggunaan HP. Oleh karena itu, layanan konseling REBT perlu dikembangkan secara optimal dalam program bimbingan dan konseling di sekolah.
Joko Riyanto, S.Pd. M.Pd
Konselor Sekolah/Guru BK SMA N 1 Bantarbolang dan Konsultan Pendidikan