Kita pasti pernah jalan-jalan bareng rekan-rekan atau keluarga sekedar melepas penat karena pekerjaan. Ada yang ke tempat wisata ada yang belanja di mall atau naik gunung yang menakjubkan. Kita merasa enjoy atas keindahan perjalanan dan tempat yang kita kunjungi. Bahkan ada getaran kekaguman akan kebesaran Sang Pencipta. Namun, di saat kita takjub, ada rekan seperjalanan yang justru mengeluh, "Aduh, jalannya berlumpur” atau “ah udaranya terlalu dingin” atau, “tempat ini tidak menarik sama sekali."
Kejadian di tempat perjalanan tersebut adalah miniatur kehidupan kita sehari-hari, terutama saat kita bekerja di area *public service*. Kita telah mencurahkan energi, pikiran, dan hati untuk memberikan pelayanan terbaik, baik membangun sistem yang efisien, memberikan senyuman, dan bekerja melampaui ekspektasi. Namun, sekeras apa pun kita berusaha, kritik negatif akan selalu datang.
Mengapa hal ini terjadi? Dalam psikologi, kita mengenal istilah Perceptual Set, sebuah konsep yang dipopulerkan oleh para psikolog seperti dalam buku Psychology: Themes and Variations karya Wayne Weiten. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk merasakan atau menafsirkan sesuatu berdasarkan ekspektasi, pengalaman masa lalu, dan kondisi emosionalnya sendiri. Singkatnya, kita melihat dunia bukan sebagaimana fakta yang apa adanya , melainkan sebagaimana diri kita adanya. Seseorang yang sedang lelah, penuh prasangka, atau memiliki ekspektasi yang tidak realistis, tidak akan pernah bisa melihat keindahan, sehebat apa pun pelayanan yang kita berikan. Kritik yang mereka lontarkan sering kali adalah cermin dari kondisi batin mereka sendiri, bukan refleksi dari kualitas kerja kita.
Namun, bukan berarti kita harus menutup telinga rapat-rapat. Kita justru harus memandang kritik sebagai "alarm" atau pengawas tidak langsung atas pekerjaan kita. Sering kali, di balik keluhan yang pahit, terselip masukan berharga yang luput dari pandangan kita yang mungkin sudah terlalu nyaman dengan sistem yang ada. Kritik bukanlah untuk diabaikan, melainkan menjadi pemicu untuk melakukan continuous improvement. Dengan menyikapi kritik secara objektif, kita menjadikan para pengkritik sebagai pengawas gratis yang membantu kita menyempurnakan kualitas pelayanan. Sebagaimana nasihat dalam buku The Effective Executive karya Peter Drucker, seorang pemimpin yang tangguh adalah ia yang mampu memilah mana keluhan yang bersifat emosional dan mana yang merupakan sinyal untuk melakukan perbaikan nyata.
Dalam khazanah spiritual, kita diajarkan untuk menyikapi hal ini dengan bijak. Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat emas yang menenangkan:
"Sesungguhnya dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah." (HR. Muslim)
Pesan tersiratnya adalah bahwa dunia ini memang penuh dengan "perhiasan" yang sifatnya sangat subjektif. Bagi orang yang hatinya bersih dan penuh syukur, ia akan melihat kebaikan dalam setiap kesulitan. Namun, bagi mereka yang hatinya sedang sempit, bahkan kemegahan pun akan tampak menjemukan.
Imam Syafi'i pernah memberikan nasihat legendaris ”Aku mampu berhujah dengan sepuluh orang yang berilmu, namun aku akan kalah dengan satu orang yang jahil, karena ia tidak tahu landasan ilmu." Hal tersebut senada dengan buku The Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli tentang bagaimana kita harus bijak memilih perdebatan. Dalam konteks pelayanan, orang yang "jahil" di sini adalah mereka yang tidak mau melihat niat baik dan proses yang kita jalankan. Berdebat dengan mereka hanya akan menguras energi.
Sebagai profesional, kita harus memiliki Mental Resilience atau "benteng mental". Jangan biarkan kebahagiaan dan harga diri kita bergantung pada validasi orang lain. Jika kita menuntut setiap orang untuk kagum, kita sedang menyerahkan kendali kebahagiaan kita ke tangan mereka. Jadilah seperti sungai yang tetap mengalir tenang meski ada yang mencibirnya keruh. Fokuslah pada kualitas, bukan reaksi.
Dalam terminologi Islam, ini adalah esensi dari *Ikhlas*. Ketika pelayanan kita niatkan sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Khalik, maka gangguan berupa kritik manusia hanyalah riak kecil yang tidak akan mengubah arah aliran sungai kita. Teruslah berkarya, teruslah memperbaiki sistem, dan tetaplah melayani dengan standar tertinggi. Kita adalah emas, meskipun ada mata yang tidak mampu melihat cahayanya, nilai kita tetap tinggi di mata Sang Pemilik Semesta.
Jangan pernah lelah menabur kebaikan, sebab setiap kritik yang datang bukanlah batu sandungan, melainkan pemicu (trigger) untuk memperbaiki diri dan menyempurnakan kualitas kemanfaatan kita bagi sesama. Teruslah berkarya dan melayani dengan standar tertinggi.
Semoga keberkahan untuk kita semua. Aamiin…
Pemalang, 12 Juli 2026