“Malem ini kita ngafe yuk?” ajak istri saya.
“Waduh! Gue banyak PR, nih. Minggu depan ya.” Untuk kesekian kalinya saya menolak ajakannya.
Belakangan ini saya memang makin susah keluar rumah. Bukan karena malas. Di meja kerja saya sedang mengantre tiga buku yang harus selesai tahun ini.
Bukan. Ketiga buku itu bukan buku saya. Semuanya milik orang lain. Ada pengusaha, profesional, dan tokoh masyarakat yang memercayakan kisah hidup mereka kepada saya melalui jasa ghostwriting.
Setiap hari saya bergelut dengan catatan wawancara, rekaman audio visual, dan tumpukan dokumen yang harus diubah menjadi sebuah buku.
Kadang-kadang, saat menatap semua bahan itu, saya teringat satu pertanyaan yang belakangan makin sering muncul sehubungan dengan majunya teknologi.
“Ngapain bayar ghostwriter mahal-mahal kalau sekarang sudah ada AI?”
Pertanyaan yang masuk akal. Hari ini, siapa pun bisa meminta AI menulis artikel, membuat caption, bahkan menyusun buku dalam hitungan menit. Dunia sedang mabuk teknologi. Orang-orang bertepuk tangan melihat mesin menghasilkan ribuan kata hanya dalam beberapa detik.
Namun justru karena itulah saya semakin yakin. AI tidak akan membunuh profesi ghostwriter. Sebaliknya. Profesi ini justru akan menjadi semakin berkibar. Alasannya sederhana. Klien tidak membayar ghostwriter untuk menulis. Mereka membayar ghostwriter untuk menangkap sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka ucapkan.
Beberapa waktu lalu saya mewawancarai seorang klien yang bercerita tentang masa sulit dalam hidupnya. Awalnya semua berjalan biasa. Ia menceritakan perjalanan bisnisnya. Tahun demi tahun. Angka demi angka. Peristiwa demi peristiwa.
Lalu saya bertanya, “Momen terberatnya kapan?”
“Waktu bangkrut.” Ia menjawab singkat.
Saya menunggu. Ia diam. Beberapa detik. Lalu memandang ke meja. Tangannya meremas gelas kopi.
“Istri meninggalkan saya dan membawa anak kami satu-satunya,” katanya pelan.
Setelah itu ia kembali diam. Mungkin hanya tiga atau empat detik. Namun justru di situlah cerita sesungguhnya berada. Bukan pada kalimat “Waktu bangkrut”. Kalo itu doang mah AI juga bisa.
Yang berharga justru jeda sebelum kalimat tersebut keluar. Ada rasa marah, kalah dan rasa sakit. Ada harga diri yang pernah hancur. Ada kenangan yang bahkan bertahun-tahun kemudian masih terasa berat untuk diingat.
Saat wawancara kadang saya bertanya, "Are you okay? Kalo terlalu berat kita bisa berhenti di sini dan lanjutkan besok."
"It's okay. I am fine," kata orang itu sambil menyeka air matanya.
Semua itu tidak tertulis dalam transkrip. Tidak muncul dalam rekaman suara. Tidak bisa di-copy-paste ke dalam prompt. Namun seorang ghostwriter yang hadir di sana bisa merasakannya. Dan ketika buku itu ditulis, yang dipindahkan bukan hanya kata-kata.
Yang dipindahkan adalah emosi. Karena pada dasarnya manusia tidak jatuh cinta pada informasi. Manusia jatuh cinta pada pengalaman. Kita menangis bukan karena membaca data. Kita menangis karena merasakan emosinya
Dalam dunia neurosains, para peneliti menyebut fenomena ini sebagai neural coupling. Ketika seseorang menceritakan pengalaman yang benar-benar ia alami, sebagian pola aktivitas otaknya dapat tersalin ke otak orang yang mendengarkan.
Itulah sebabnya sebuah kisah yang jujur terasa hidup. Kita ikut tegang. Ikut sedih. Ikut lega. Seolah-olah pengalaman itu terjadi pada diri kita sendiri. Seorang ghostwriter bekerja di wilayah yang sangat manusiawi itu.
Ia tidak sekadar menyusun kalimat. Ia menyerap pengalaman hidup seseorang, lalu menerjemahkannya ke dalam bentuk cerita yang bisa dirasakan oleh orang lain.
AI mungkin bisa menghasilkan teks yang rapi. Bahkan mungkin lebih rapi daripada manusia. Namun ada satu hal yang sulit digantikan. AI tidak pernah duduk berhadapan dengan seorang klien yang tiba-tiba terdiam saat mengenang ayahnya.
AI tidak pernah melihat mata yang berkaca-kaca ketika seseorang menceritakan kebangkrutan pertamanya. AI tidak pernah mendengar suara yang bergetar saat seorang istri meninggalkan suaminya saat sedang terpuruk. Dan karena tidak pernah mengalami semua itu, AI juga tidak pernah bisa memahami bobot emosinya.
Di masa depan, dunia akan dibanjiri tulisan. Jumlahnya mungkin tidak terbayangkan. Semuanya tersedia dalam hitungan detik. Namun justru ketika teks menjadi melimpah, sesuatu yang lain akan menjadi langka. Keaslian pengalaman manusia.
Dan seperti semua hal yang langka, nilainya akan semakin mahal. Ghostwriter masa depan tidak dibayar karena mampu mengetik. Tidak dibayar karena mampu menyusun paragraf. Tidak dibayar karena menguasai tata bahasa.
Ghostwriter dibayar karena mampu menangkap jiwa seseorang, lalu mengabadikannya dalam bentuk kata-kata. Mesin bisa menghasilkan teks. Manusia menghasilkan resonansi.
Setiap kali duduk mendengarkan kisah hidup seseorang, saya sadar bahwa pekerjaan ini sebenarnya bukan soal menulis.
Pekerjaan ini adalah soal mendengarkan. Mendengarkan begitu dalam sampai seseorang merasa benar-benar dipahami.
“Ya udah kalau gitu kita (ngopi) di rumah aja,” kata istri saya (seraya berlalu ke meja bar dapur untuk membikin kopi):.
“Good idea, Wife” sahut saya.
“Cheers.” Kami saling mengangkat (gelas kopi panas).
Dua gelas bersentuhan (dan berdenting) mewakili dua hati yang saling memahami. Bunyi kecil yang mungkin terdengar sepele. Namun seperti jeda empat detik dalam wawancara tadi, sering kali justru hal-hal kecil yang tidak terucapkan itulah yang paling banyak bercerita. See less.
✍️ Budiman Hakim
PS: Terima kasih buat semua klien yang telah memberi mempercayakan pada saya untuk menulis kisah hidupnya.
Inspirasi
GHOSTWRITER
Terbaru di Inspirasi
Lihat semua →
Cahaya di Balik Butiran Merah
08 Jul 2026
· 27x
🌼Mimpi Bapak
29 Jun 2026
· 570x
Evime Dönüyorum, Mas Setyo
11 Jun 2026
· 1,293x
Syair Seorang Ayah (2)
04 Jun 2026
· 249x
Syair Seorang Ayah
03 Jun 2026
· 196x
Di Sirandu, Kembali Bertemu
30 May 2026
· 1,178x
Pertemuan Sepasang Sayap Rindu
21 May 2026
· 1,178x
Hanya Amal yang Menemani
21 May 2026
· 175x