Beberapa Minggu ini, tiga kali engkau menemuiku, Bapak.
Di mimpi-mimpi yang samar kuingat.
Aku masih sering melihatmu.
meski hanya bayang-bayang yang singgah
di sela sore dan bau tanah sehabis hujan.
Tubuhmu tinggi, tegap,
seolah pohon randu yang tumbuh sendirian
di pinggir jalan desa.
Ketika kau terbaring di RSUD Pemalang, saat sakit pertama mendadakmu,
seorang teman yang menemaniku menyetir, dan baru kenal Bapak, menepuk bahuku dan berkata diantara suara kursi roda yang melewati lorong panjang :
"Bapakmu gagah ya, Mas. Bahkan ketika sakit"
Aku hanya mengangguk.
Sebab aku tahu,bahkan ketika sakit telah menggerogoti tubuhmu,
ada sesuatu yang tak berhasil dikalahkannya:
cara matamu memandang dunia
seperti seorang lelaki yang sudah berdamai dengan segala musim.
Aku tidak mewarisi tubuhmu.
Aku tumbuh tinggi dan kurus,
lebih mirip tiang jemuran,
daripada batang pohon yang kokoh sepertimu.
Tapi mungkin ada yang diam-diam kau titipkan:
sedikit ketabahan,
sedikit kesabaran,
dan cara tersenyum ketika hidup sedang tidak ramah.
Aku ingat punggungmu di atas sepeda.
Kala pulang sekolah saat SMA.
Aku duduk di belakangmu,
memeluk pinggangmu yang kuat,
sementara roda-roda itu membelah jalan desa
yang diapit sawah hijau dan suara anak-anak di tanah lapang.
Angin membawa bau padi.
Dan aku, anak remaja yang belum mengenal kehilangan,
mengira perjalanan itu akan berlangsung selamanya.
Betapa polosnya waktu itu.
Orang-orang mengenalmu sebagai ketua RT abadi, tak terganti.
Yang lebih hafal persoalan tetangga
daripada urusan dirinya sendiri.
Mereka mengetuk pintu malam-malam,
membawa kabar, masalah, atau sekadar keluh kesah.
Dan kau selalu membuka pintu.
Seolah hidup memang dibuat
untuk saling mendengarkan.
Di desa dan pasar, orang mengenalmu sebagai juragan beras yang bertubuh gagah dan banyak uang.
Tapi aku mengenalmu :
lelaki yang pulang membawa lelah,
lalu tetap menyempatkan bertanya,
"Gimana sekolahmu, Nak?"
Pada usia yang semakin senja,
kau makin akrab dengan sajadah.
Malam-malam menjadi lebih panjang bagimu.
Sering aku terbangun,
mendengar suara air wudu,
lalu melihat lampu temaram 5 Watt menyala dikamar belakang.
Kau berdiri dalam tahajudmu,
sementara dunia masih tertidur.
Mungkin di situlah diam-diam
kau sedang berbicara dengan Tuhan
tentang kami satu per satu. Ke-enam anak-anakmu.
Di sakit mendadak keduamu, kau pergi.
Anak padawa lima yang telah gugur satu, mentalqinkan dan membaca al Qur'an untukmu, sebelum kepergianmu.
Bapakku pergi dalam senyum bahagia bagai melihat bidadari yang sedang siap menjamu
Saat itu rumah tua kami masih berdiri,
jalan desa masih ada,
sawah masih menghijau ketika musim datang.
Tetapi ada satu hal yang tak pernah kembali:
suara sepedamu yang mendekat dari kejauhan,
lalu berhenti di depan rumah.
Di Selasar Rumah Sakit itu mataku memejam, mengecup keningmu dengan wajah yang basah. Menitik di wajah tenangmu. Tubuh yang telah ditinggalkan ruhnya, sowan kembali ke kekasih-MU.
Lalu ambulance itu, membawa kita pulang ke rumah. Kupegang tubuh kakumu sepanjang perjalanan. Tubuh yang masih hangat. Sosok yang akan kurindu sepanjang hayat.
Dan setiap kali rindu datang,
aku berjalan ke kenangan itu.
Saat senja beberapa kali Bapak naik motor Honda Astrea yang baru dibeli. Tapi setelah itu, sepeda yang tetap menjadi kuda, kemanapun tubuhmu pergi.
Di sana kau masih tinggi dan gagah,
masih mengayuh sepeda di jalan desa,
masih mengangkat tangan dalam doa-doa malam. Memberiku uang berlebih, dari yang kubutuhkan.
Sementara aku berdiri di tepi waktu. Menahan rindu.
Aku rindu, Bapak.
Sangat merinduimu
✍️Dino'Latief,
Kotapadi 062026
Inspirasi
🌼Mimpi Bapak
Terbaru di Inspirasi
Lihat semua →
Cahaya di Balik Butiran Merah
08 Jul 2026
· 27x
GHOSTWRITER
30 Jun 2026
· 119x
Evime Dönüyorum, Mas Setyo
11 Jun 2026
· 1,293x
Syair Seorang Ayah (2)
04 Jun 2026
· 249x
Syair Seorang Ayah
03 Jun 2026
· 196x
Di Sirandu, Kembali Bertemu
30 May 2026
· 1,178x
Pertemuan Sepasang Sayap Rindu
21 May 2026
· 1,178x
Hanya Amal yang Menemani
21 May 2026
· 175x