ruangpakar.com
Analisa Tajam, Inspirasi Kehidupan
Inspirasi

Janji Sumira

Janji Sumira

Suara kodok belentung riuh bersahut di tanah sawah yang baru ditanam. Merayakan hujan seharian yang dihamburkan arakan awan. Seakan ribuan panah yang dilesatkan Pandawa kelangit. Mendedas turun ke Padang Kurusetra, membidik para angkara Kurawa dikisah epik Perang Baratayudha.

"Thungthung.... , thungthung"

Bunyi itu meriuh seirama. Naik turun ritmis diantara deru hujan yang menyisakan gerimis. Orkestrasi alam mengisi ruang malam, di desa yang berbatas debur laut beberapa kilometer di sebelah utara.

Suara itu terdengar nyaring. Kantong suara di leher kodok jantan akan menggelembung sebagai resonator. Menguatkan getaran dari pita suara. Udara dipompa organ pernapasan.

Harmoni nyanyian kodok-kodok jantan, sejatinya dipersembahkan untuk menarik perhatian kodok betina, yang tengah berdiang di atas ranting-ranting pohon Laban, berendam di genangan-genangan air hujan, disela-sela hamparan ilalang. Ada yang terpesona, ada yang tak peduli.

Sebagian orang percaya, suara kodok yang datang, dianggap membawa keberuntungan. Diyakini menghantar simbol pembaruan dan kesuburan. Saat petak-petak sawah menumbuhkan batang-batang padi yang rimbun. Merundukkan bulir-bulir kuning bernas yang ranum.

Malam tlah mangancik sunyi, meski adzan Isya belum lama terdengar dari mushola yang terletak di sisi irigasi. Irigasi yang sedang mengalirkan air keruh hujan dari bendungan tua Sokawati yang terletak di wilayah Ampelgading, Pemalang. Membawa air itu hingga jauh ke persawahan sepanjang Pantura. Bendungan yang dibangun Belanda awal tahun 1900-an masa Gubernur Jenderal Dirk Fock. Bendungan yang telah ratusan tahun mengairi sawah-sawah petani. Menghidupi mereka dari generasi ke generasi.

Sumira melipat sajadah dan mukena berenda warna putih kusam. Mukena yang dibelikan

bapaknya 4 tahun silam, sepulang berlayar. Menyampirkannya di sandaran kursi kayu bercat coklat muda. Sejak kepergian Lik Wakjud dua tahun lalu, rumah yang kini ditinggali Sumira

berdua dengan ibunya, seperti menua lebih lekas. Rapuh kemepyur dinding-dindingnya sekilas.

Semasa Lik Wakjud masih ada,

semua perabotan kayu, pintu, daun jendela yang tampak kusam, akan di plisturnya ulang. Semua kembali berkilau bersih, seakan baru lagi. Cat dinding yang dulu tampak cerah, sekarang telah juga memudar. Seolah ikut merasakan langut yang mengendap di setiap dinding rumah dan perabotan.

Lik Wakjud seorang juru mudi kapal nelayan. Dia mengemudikan kapal milik seorang juragan, Pak Suraji. Kapal yang berisi 30 orang nelayan saat berlayar mencari ikan. Seorang Juragan pemilik kapal biasanya sekaligus pemberi modal untuk segala kebutuhan selama pelayaran.

Beberapa bulan mereka menjelajah bentang lautan. Ketempat-tempat perairan yang dalam dimana berkumpul banyak rupa ikan. Sebagai juru mudi Lik Wakjud harus bisa membaca

tanda-tanda alam : arah angin, arus laut, warna air, hingga pergerakan burung di cakrawala. Nelayan berpengalaman akan bisa merasakan dimana ikan berkumpul, terlebih dibantu alat pemindai sonar.

Mereka memasang jaring, memancing, atau menggunakan alat tangkap lainnya. Kadang dilakukan malam hari karena beberapa jenis ikan lebih aktif saat gulita. Hasil tangkapan langsung dipilah, dibersihkan, disimpan di kotak-kotak berisi balok es agar tetap segar saat kembali ke daratan. 

Setelah hasil tangkapan dirasa cukup atau perbekalan yang telah menipis, Lik Wakjud akan membawa perahu dan para nelayan pulang, untuk melapor juragan serta menjual hasil tangkapan.

Mereka akan rehat sejenak di rumah beberapa minggu. Pada keluarga melepas rindu. Berangkat melaut lagi, saat cuaca bersahabat. Meski di laut, kadang tiba-tiba cuaca dan badai tak bisa diprediksi. Kehendak alam jika sedang ingin mengamuk, siapa yang akan bisa

menunda? Tak ada yang bisa mencegahnya. Manusia hanya serpihan kecil dibentang samudra nan luas.

Seperti kabar yang dibawa Pak Suraji, juragan kapal, saat sang fajar masih menggeliat, di hari Kamis itu. Bukan kabar cerah seperti matahari yang sedang berpendar terang menaiki ufuk timur. Tapi kabar Lik Wakjud hilang beserta separuh nelayan, setelah Angin Barat menerjang hebat kapalnya. 

Angin barat biasanya sekitar bulan Oktober–Maret. Membawa gelombang tinggi, hujan lebat, dan badai. Paling ditakuti nelayan. Karena sering memicu cuaca ekstrem di laut bagian barat dan selatan. Tetapi karena kebutuhan hidup yang mendesak, sebagian nelayan ada yang mengabaikan. Biarlah alam dengan tabiatnya, manusia masing-masing memiliki jalan nasibnya. Di rumah pun bisa mati, jika waktunya tiba. Begitu pikiran sederhana mereka.

Sumira beranjak ke ruang tengah. Duduk di kursi beranyam rotan dekat meja kecil bulat dengan vas bunga plastik dan koran bekas yang dulu di baca bapaknya berkali-kali hingga lusuh. Sebagian hurufnya juga pudar terkena tumpahan air kopi. Kursi itu selalu menjadi tempat duduk setiap pagi atau sore kala tak berlayar : membaca koran dan majalah bekas yang dibeli kiloan di pasar loak, sambil menyeruput kopi hitam, atau sekadar melihat gerumbul daun pohon jambu biji yang ditanam dengan tangannya sendiri, berkibaran dimainkan angin.

“Jika suatu hari Mira pergi jauh merantau, pulanglah meski hatimu sedang patah, Nduk. Kehangatan rumah ini pelan-pelan akan menyembuhkan. Jangan buru-buru memaksa untuk kuat. Kuat akan datang setelah kita mengizinkan diri rapuh,..dan puas menangis " 

" Nggih,Pak" 

"Kita kuat bukan didapat sesaat. Kita kuat saat ada jeda, setelah badai reda. Itu juga yang Bapak pelajari dari kehidupan, saat di tengah ganas lautan ”.

"Nggih" 

Dua baris kalimat itu diucapkan bapaknya, saat dia baru lulus Sekolah Menengah Atas. Pergi merantau karena diterima di sebuah Universitas Negeri di Semarang.

Pada Sumira dan ibunya, sikap dan tutur kata Lik Wakjud selalu tenang dan menyenangkan. Tetapi orang lain sering menilai bapaknya orang yang kaku dan keras. Terutama bagi sebagian anak muda yang menyukai Sumira. Mereka akan mundur teratur setiap perjumpaan pertama dengan bapaknya. Entah apa yang diperbincangkan. Karena setiap ada pemuda yang datang kerumahnya, pasti Sumira akan di suruhnya ke warung membeli obat sakit kepala.

Ibunya juga selalu berusaha mengalihkan pembicaraan, jika dia bertanya perihal apa yang dibicarakan bapak dan beberapa pemuda yang pernah menyukainya. 

Malam menyuling larut. Sesekali raung sepeda motor melintas di jalan perkampungan. Dari ruang tengah, terdengar suara burung Hantu yang bertengger di dahan pohon Trembesi belakang rumah. Satu kali Sumira mencari suara itu dengan senternya. Di atas sana rupanya, di dahan besar, cakarnya mencengkeram kuat. Matanya yang berkilat mengawasi lalu lalang halaman belakang. Ada tikus yang mungkin sedang diincarnya. Untuk santap malamnya.

“ Rumah ini, selalu menjadi rumahmu, Mira ” lirih suara ibu terdengar hangat.

"Nggih, Bu. Aku tak kan pernah pergi dari rumah ini. Aku tak kan kemana-mana. Bahkan hingga tua nanti. Aku janji"

“Bapakmu masih ada di sini. Di tanda-tanda kecil yang dia tinggalkan. Dia ingin rumah ini menjadi tempatmu melahirkan dan membesarkan cucu-cucunya. Rumah yang selalu hidup oleh riuh tangis dan tawa penghuninya. Bukan rumah yang sunyi dan lapuk karena

ditinggalkan”

" Jadi karena itu Bu, Bapak menolak beberapa pemuda yang pernah datang?"

"Iya, karena mereka akan membawamu merantau. Membawamu meninggalkan rumah ini "

Sumira menunduk. Kini dia tahu alasan bapaknya. Maksud yang baik semata. Agar rumah yang dibangun dari jerih payahnya bertarung di laut lepas, akan selamanya dirawat dan dijaga oleh anak keturunannya. Hidup di laut sungguh keras, sepi, berbulan-bulan jauh dari keluarga. Dan hanya bisa pasrah, jika ditelan gelombang adalah jalan pulang menemui Sang Pemilik Kehidupan. 

Dulu, saat Sumira masih sekolah dan sedang belajar dikamarnya, pernah sayup terdengar percakapan lirih Bapak dan ibunya dari ruang depan :

"Sepanjang hidup, kita mengumpulkan bata demi bata, semen demi semen, kayu demi kayu, untuk sebuah rumah yang kita tempati ini, Bu. Namun diam-diam Bapak juga takut pada satu hal : rumah ini kelak menjadi suwung, tanpa penghuni setelah kita dipundhut Gusti Allah nanti. Catnya mengelupas, halamannya ditumbuhi ilalang. Pintunya selalu terkunci tanpa pernah lagi ada yang mengetuk. Lalu perlahan kayu-kayunya lapuk, tembok-temboknya remuk dan ambruk "

" Iya, Pak. Semoga nanti Sumira berjodoh dengan suami yang mau tinggal di rumah ini"

Detak jam dinding berselingan dengan hela panjang nafas Sumira. Buliran bening mengalir.

Membasahi di pipinya. Lepas tumpah. Seperti pintu yang lama terkunci. Dunianya yang selama ini terkatup rapat, kini terbuka. Dunia yang ingin dijalani bersama Mas Wibi dan anak-anak buah cinta mereka kelak. 

Ya, Mas Wibi teman semasa kuliah dari Kendal yang minggu depan akan berkunjung. Akan datang bersama keluarga untuk melamarnya. Setelah menikah, mereka berencana tinggal di rumah ini. Rumah yang dibangun bapaknya. Rumah yang tak akan pernah sepi lagi. Rumah yang akan hangat oleh pecah tangis dan derai tawa cucu-cucu bapaknya nanti.

🍀Kotapadi, 2026

Terbaru di Inspirasi
Lihat semua →
Pertemuan Sepasang Sayap Rindu
Pertemuan Sepasang Sayap Rindu
21 May 2026 · 3x
Hanya Amal yang Menemani
Hanya Amal yang Menemani
21 May 2026 · 9x
Pandawa Lima di Rumah Limasan
Pandawa Lima di Rumah Limasan
11 May 2026 · 39x
Lentera di Lembah Dosa
Lentera di Lembah Dosa
10 May 2026 · 28x
ARTI SEBUAH KELULUSAN
ARTI SEBUAH KELULUSAN
04 May 2026 · 111x
Taubatnya Sang Ustadz
Taubatnya Sang Ustadz
03 May 2026 · 66x
Resonansi Kali Code
Resonansi Kali Code
30 Apr 2026 · 63x
Elegi Penulis (Ed. Yogyakarta)
Elegi Penulis (Ed. Yogyakarta)
25 Apr 2026 · 57x