ruangpakar.com
Analisa Tajam, Inspirasi Kehidupan
Inspirasi

Pandawa Lima di Rumah Limasan

Pandawa Lima di Rumah Limasan

Di sebuah kampung Pemalang timur sana, berdiri sebuah rumah besar bergaya limasan tahun 1970-an milik Pak Pandu. Dia memiliki lima anak. Laki-laki semua, bagai pandawa lima. Maka anak-anak laki-laki itu pun dia namai seperti nama-nama pandawa lima. Berurutan dari anak laki terbesarnya: Punta, Bima, Parta, Nakula dan Sadewa. Kebetulan pula, dia memang suka wayang. Setiap malam, sebagai pegantar tidurnya, dia menyetel wayang di radio National-nya.Untuk mesin tape-nya, dia mengoleksi kaset tape. Parta, anak laki ketiganya, mengikuti kesukaan ayahnya terhadap wayang. Lakon-lakon wayang seperti Kresna Duta, Anoman Duta, Sugriwa Subali, Arjuna Wiwaha dan...sudah barangtentu Mahabarata dan Ramayana masih cukup diingat olehnya.

Dari daun-daun pohon jeruk bali yang tumbuh rimbun di depan teras rumah itu, tetesan embun jatuh satu-satu di atas daun pandan, menciptakan ketukan ritmis yang bening. Burung-burung kutilang, pipit dan jalak suren bersahutan, melompat di antara ranting jeruk bali dan jeruk purut yang harumnya lamat-lamat terbawa angin kebun di samping dan belakang rumah. Mereka seperti sedang berebut menceritakan rahasia matahari yang baru merayap naik dari ufuk timur, membasuh dinding rumah tahun 1970-an itu dengan warna keemasan yang purba berwibawa.

Di atas wuwungan, burung-burung merpati peliharaan Sadewa, warisan peliharaan Parta, mulai mengembangkan sayap-sayapnya--kalau manusia, gerak mulet ketika baru bangun tidur kali ya, hehe. Suara bekur mereka berat dan dalam, bergulung-gulung di udara pagi yang sejuk—sebuah senandung tenang yang seolah membujuk penghuni rumah untuk bangun dengan jiwa yang baru. Daun-daun pohon kelapa di kebun belakang rumah melambai pelan, mengirim udara segar ke sekeliling rumah dan masuk ke dalamnya melalui ventilasi jendela dan pintu. Daun-daun pohon pisang di kebun samping rumah pun tak mau ketinggalan melambi-lambaikan dedaunanya. Ketika pagi hari tiba, ia menjaring cahaya mentari yang masuk ke dalam rumah melalui jendela-jendela berkaca, menciptakan siluet tarian di atas lantai tegel yang dingin-sejuk.

Suatu hari libur tahun ajaran baru, semua anak Pak Pandu, baik yang sudah bekerja maupun yang masih kuliah, berkumpul. Suasana rumah jadi riuh.

Semarak. Pak Pandu sangat senang jika anak-anaknya berkumpul pulang. Berbagi cerita dan canda. Lebih senang lagi, pasti, ibunya anak-anak, Bu

Kunti. Seorang ibu sederhana yang pandai memasak. Pandai dalam hal rasa: sedap nikmat. Bukan pandai memasak berbagai resep menu yang memikat. Parta terutama, biasanya kalau pulang ke rumah, makannya banyak. “

Masakan ibu ngangeni, sedap,” katanya suatu saat, ketika ditanya teman kuliahnya, “Kenapa getol ingin pulang, padahal cuma libur dua hari?”

Pak Pandu adalah seorang juragan padi dan beras yang cukup sukses, disamping memiliki sawah berhektar. Dengan pekerjaannya itulah, dia mampu menyekolahkan semua anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Yang mana pada saat itu, di desa itu, sekolah hingga SMA apalagi kuliah, dianggap sesuatu yang ngoyoworo. Mengada-ada. Cita-cita terlalu muluk. “Buat apa sekolah tinggi-tinggi,” celetuk budhenya ibu anak-anak dengan nada mengolok-olok, “emang mau jadi apa?” sambungnya. Olokan, ejekan dari budhe istrinya itu, bagi Pak Pandu dianggap sebagai ejekan yang tak termaafkan. Ironis memang, saudara tapi suka mengejek, bukannya menyuport.

Dibalik semua itu, Pak Pandu memiliki sisi lain kehidupan: menjadi dukun cukup terkenal. Di sebuah kamarnya, nongkrong sebuah meja kecil tempat menaruh sesajen. Di lacinya, dia gunakan untuk menyimpan buku mujarobat dan buku pitungan usang—karena sering dipakai dan berumur tua--serta jimat-jimat. Sementara itu, sebuah space di jendela, terdapat tempat dia menyimpan puluhan keris besar dan kecil. Baginya, menjadi dukun hanyalah sampingan untuk menolong orang, bahkan dia lebih sering menolak mahar pemberian pasien dan keluarganya.

Tibalah di suatu malam Jumat itu, bau kemenyan menyeruak. Di ruang tengah, kelima putra laki-lakinya berkumpul pasca makan malam. Mereka bukan lagi anak kecil. Yang sulung adalah insinyur Perminyakan, yang kedua, ilmu Geofisika, yang ketiga Teknologi Kulit, yang keempat ilmu Keuangan, dan terakhir, yang ragil, Ilmu Pemerintahan.

"Pak, ngapunten," buka si sulung, Punta, yang bekerja di perusahaan farmasi nasional—meski lulusan perminyakan, "boleh kami bertanya soal sesaji di sudut ruangan itu?" lanjutnya dengan pertanyaan konfirmasi yang santun. Dulunya dia aktivis mahasiswa di pesantren mahasiswa. Terlatih sebagai organisatoris handal. Hobi bacaannya luas, dari kitab-kitab klasik hingga buku-buku penulis Barat.

Pak Pandu mengangguk sambil mengelap sebuah keris kecil. Keris jimat yang estetis lagi eksotis. Indah. "Itu untuk menghormati leluhur yang berkunjung tiap malam Jumat, Le. Agar rumah kita tetap adem-aman,"jawabnya singkat.

Pak Pandu dikenal sebagai seorang pendiam, namun tegas. Badannya tinggi besar dan tegap. Rambutnya bikal bergelombang. Kulit sawo matang, wajah manis cukup tampan. Sedikit senyum, namun ramah. Makanya pada masa mudanya, banyak gadis cantik desa yang menaksirnya. Pada akhirnya dia lebih memilih bu Kunti. Wanita sederhana tidak banyak gaya.

Putra kedua, Bima, yang mendalami Geofisika menyahut pelan, "Pak, secara pikiran sehat,... apa iya orang yang sudah wafat, yang dimensinya sudah berbeda, masih bisa kembali setiap pekan hanya untuk menikmati aroma kemenyan dan sedap makanan? Bukankah di sana mereka hanya butuh doa kita, bukan nasi tumpeng, bubur putih tengah coklat, minuman kopi dan teh bahkan rokok serta kembang setaman?"

Si bungsu, Sadewa, yang belajar ilmu pemerintahan menambahkan, "Ibarat birokrasi, Pak. Orang yang sudah pindah instansi tidak akan kembali ke kantor lama hanya untuk makan siang. Mereka punya urusan baru di tempat yang baru."

Pak Pandu terdiam. Logika sederhana anak-anaknya yang berpendidikan tinggi itu mulai mengusik batinnya. Selama ini dia hanya meneruskan tradisi dan juga warisan ibunya—neneknya anak-anak--tanpa pernah mempertanyakan rasionalitasnya. Nuraninya mengakui, suka terhadap cara anak-anaknya berdiskusi. Bukan dengan cara banyak dalil agama.

Malam Jumat Kliwon itu, di luar, hujan rintik membasuh atap genteng tanah liat rumah Pak Pandu. Syahdu. Di dalam, lampu gantung kristal yang mulai redup karena umur, memberikan kesan romantis-dramatis pada ruang tengah yang luas. Aroma kemenyan mulai menyeruak dari sebuah tungku kecil di sudut ruang, bersaing dengan bau tanah basah bercampur debu dari luar. Aroma khas, terciptalah.

Pak Pandu bangun dan bergeser menuju ke ruang tirakat. Dia lalu duduk bersila. Di hadapannya telah berjejer deretan keris besar dan kecil. Tidak ketinggalan air, sekam padi, sebuah takir sesaji dari daun pisang yang berisi bunga mawar, melati, gelas air kopi pahit, teh dan nasi tumpeng kecil.

Kelima putranya membuntutinya, melingkar dekat ayahnya, menciptakan suasana diskusi yang lebih hangat tapi serius. Asik sekali, melebihi rapat DPR sekalipun. Hehe.

"Pak," ujar Punta membuka percakapan, "soal sesaji ini... kami kepikiran.Takut ayah jatuh ke syirik, yang dosanya tidak terampuni jika kita meninggal sebelum taubat darinya."

Sementara Bima sudah melemparkan premis tentang dimensi, anak ketiganya, Parta, yang ahi kimia kulit, menimpali dengan sudut pandang materialnya, "Iya Pak, coba ayah lihat keris-keris ini," katanya, sambil menunjuk gaman yang sedang dibersihkan, dimandikan ayahnya dengan air dan sekam padi serta bebungaan, "sebagai orang teknologi kimia kulit, saya tahu cara merawat materi organik agar tidak rusak. Keris itu logam, warangkanya kayu atau kulit. Mereka benda mati, Pak. Memberinya sesaji seolah mereka punya nyawa dan butuh 'makan', itu tidak rasional. Logam butuh minyak anti-karat, bukan doa atau kembang mawar. Sementara warangkanya, jika dari bahan kayu, ia harus diolesi dengan minyak kenanga, minyak cendana atau minyak kelapa murni {VCO} secara tipis-tipis. Jika warangkanya dari kulit asli, biasanya dari kulit kerbau, bisa gunakan minyak zaitun atau cendana. Oleskan merata dengan jari lalu diamkan lima belas menitan. Kemudian baru dilap dengan kain lembut yang bersih. Semuanya dilakukan berkala seperti ayah memandikannya ini," terangnya cukup panjang lebar.

Punta yang duduk di sebelah kanan ayahnya, sambil menyentuh bahunya, menambahkan, "Pak, minyak bumi yang saya cari di perut bumi itu murni proses alam hingga 600 jutaan tahun. Tidak ada magis di sana, hanya hukum Tuhan yang pasti. Ayah sudah terlalu lama memikul 'beban' yang tidak pasti ini."

Giliran anak keempatnya, Nakula, yang orang Keuangan, menimpali dengan logika efisiensi—tapi bukan gaya efisiensinya pemerintah ya, haha-- "Dari sisi manajemen risiko dan keuangan, Pak... Ayah mengeluarkan uang untuk membeli sesaji setiap minggu demi sesuatu yang tidak memberikan return atau timbal balik nyata. Manfaatnya pun tidak jelas.Kalau tujuannya sedekah, bukankah lebih baik biaya sesaji ini dikonversi jadi beras dari gudang kita untuk dibagikan ke tetangga yang nestapa? Orang mati sudah selesai urusan dunianya, mereka tidak butuh anggaran makan lagi, Pak.

Hehe."

Sementara itu, ayah mereka masih tetap sibuk dengan pekerjaannya bersama keris-kerisnya, namun kemudian terdiam lama. Termenung, seperti sedang berfikir keras. Rasa ragu dan bimbang sepertinya mulai menelusup sanubarinya. Di depannya, Kitab Mujarobat usang terbuka, di samping tumpukan bunga setaman yang mulai layu. Asap kemenyan yang meliuk-liuk di depannya seolah sedang meledek kebimbangannya. "Tapi ini cara Ayah menghormati yang 'tak terlihat', Le...," sahutnya kemudian.

Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara jangkrik dari arah kebun sebelah dan belakang rumah. Pak Pandu menatap wajah-wajah tulus anaknya. Dia melihat pantulan keberhasilannya mendidik mereka, namun dia juga melihat kegelisahan dalam jiwa mereka, karena lelakon menyimpang yang dilestarikan olehnya.

Kemudian,"Pak," sambung Sadewa lembut, "hormat pada yang tak terlihat itu cukup dengan mengirimkan doa-doa tulus kita. Memohonkan ampun

kepada Allah Ta’ala dan tempat yang mulia di sisi-Nya. Ayah sudah punya segalanya: sawah luas, gabah beras melimpah. Ayah orang baik, sering menolong orang tanpa pamrih. Sayang kalau kemuliaan hati Ayah harus terikat pada ritual yang secara logika pun kita tahu tidak akan sampai pada mereka yang sudah di alam barzakh. Apalagi dalil-dalil agama kita tentang itu, bejibun kan, Pak?"

Hujan telah reda, menyisakan bau tanah basah yang menyeruak masuk melalui ventilasi jendela dan pintu. Rumah besar itu berdiri kokoh dengan ubin tegel bermotif abu-abu yang dingin. Di ruang tengah, di bawah temaram lampu gantung yang kristalnya berdenting halus tertiup angin, Pak Pandu masih duduk terpaku di depan keris-keris eksotisnya..

Beberapa detik kemudian, “Pak,” kali ini Parta meraih tangan ayahnya yang kasar karena bertani dan berniaga. Sering mengangkat gabah dan beras, yang dibantu rewang-nya. Dia mengelus jemari ayah tercintanya, "tangan ini sudah bagus dengan bau gabah, beras dan keringat halal Ayah, Pak, bukan bau kemenyan yang menyesakkan dada kesyirikan. Keris dan warangka kulitnya ini, hanya benda mati. Biarkan mereka jadi koleksi dan hiasan, bukan jadi beban di hati Ayah, karena dosa."

Menyusul, Nakula berlutut di depan ayahnya, memegang kedua lutut Pak Pandu. "Pak, ekonomi rumah kita sudah lebih dari cukup dari hasil sawah serta niaga Ayah. Tidak ada investasi yang lebih berkah selain ketenangan batin Ayah di masa tua. Buanglah beban kesyirikan sesaji dan keris-keris itu, biarkan sirkulasi doa salat saja yang mengalir di rumah ini."

Malam itu menjadi titik balik krusial. Sepekan kemudian, saat malam Jumat kembali tiba, ruangan itu sunyi. Tak ada bara di tungku kemenyan. Tak ada aroma mistis asap kemenyan dan bebungaan.

Pak Pandu berdiri di depan kotak keris dan jimatnya. Tangannya gemetar saat hendak menyulut api di tungku pembakaran kemenyan, lalu dia teringat kata-kata anaknya tentang 'logam dan kayu' serta sesajen. Dia urungkan niatnya. Dia memilih mengambil airwudhu. Air dingin yang membasuh wajah serta kepalanya terasa lebih menyegarkan daripada kepulan asap kemenyan.

Dia kemudian beranjak mencari istrinya,"Ibu," panggil Pak Pandu pada istrinya setelah ketemu, "sesaji di sudut ruangan yang biasanya itu jangan dibuat lagi ya. Tolong buatkan saya kopi hitam saja, kita minum sama-sama di teras."

Awalnya, salat lima waktunya masih bolong-bolong. Terkadang dia hanya magrib dan isya. Ada rasa canggung saat dia harus rukuk dan sujud, sebuah gerakan yang sudah lama dia tinggalkan sejak pemuda dulu, demi duduk bersila menghadap keris. Namun, setiap kali dia ragu, kelima anaknya bergantian menemaninya. Di samping dibarengi baca buku Tuntunan Shalat karya A. Rifai.

Puncaknya terjadi enam bulan kemudian. Rumah tua itu tak lagi terasa ‘sungkup’ lagi pengap. Ruang keris yang dulu tertutup kini sering terbuka jendelanya, membiarkan angin kebun masuk membawa aroma segar tanaman jagung, ketela rambat serta singkong, bukan lagi aroma melati dan mawar yang diada-adakan.

Suatu sore, usai azan Magrib berkumandang dari masjid desa, Pak Pandu masih duduk termenung di kursi goyangnya. Punta menghampirinya, memberikan sarung tenun Samarinda baru yang harum, bersih dan bagus. Dia tidak memerintah, tapi hanya mengulurkan tangan.

"Ayo, Pak. Kita jemaah di ruang tengah. Imamnya biar Parta, dia hafalan suratnya paling bagus," ajak Punta. Pak Pandu menyambut tangan anaknya, bertumpu pada lengan kekar si sulung untuk bangkit. Ada kehangatan fisik yang merambat, meruntuhkan dinding-dinding mistis yang selama ini mengurungnya.

Pukul tiga pagi, suasana sunyi senyap. Pak Pandu terbangun, bukan karena bisikan gaib, atau mimpi buruk, melainkan karena panggilan hati yang tenang. Dia bangun malam, melaksanakan Tahajud dengan khusyuk di ruang yang dulu penuh sesaji. Tak ada lagi rasa takut pada penunggu rumah, atau leluhur marah. Tak ada lagi sudut-sudut gelap yang terasa "berpenghuni". Pak Pandu bersujud di atas sajadah baru juga, di hamparan tegel kuno yang sejuk. Suara napasnya yang teratur berpadu dengan suara alam di luar. Saat dahinya menyentuh sajadah, dia merasakan kedamaian yang tak pernah diberikan oleh keris atau jimat manapun. Dia merasa hanya ada dirinya dan Sang Pencipta alam semesta

Beberapa jam kemudian, di ufuk timur muncul cahaya fajar yang lembut, udara terasa sejuk menyegarkan. Alam yang damai menelusup jiwa dalam ketenangan. Kicauan burung, embun berkilau di atas dedaun jeruk, dan sinar matahari keemasan yang baru terbit, menciptakan perasaan nyaman, penuh harapan, serta semangat untuk memulai hari baru.

Sementara itu, Pak Pandu sudah siap-rapi dengan baju kaos dan sepatu joggingnya.Dia berlari-lari kecil seling jalan di sepanjang jalan setapak di antara sawahnya yang mulai menuning siap panen. Sekalian menaksir padi sawah-sawah tetangga. Seorang tetangga berpapasan dengannya, menyapa dengan ramah, "Pagi, Pak Juragan!" “Pagi, Bu...” jawabnya sambil berlalu.

Ternyata yang menyapa tadi bu Kundri. Wanita cantik di masa mudanya yang pernah menyatakan cinta kepada Pak Pandu. Dia tinggal beberapa blok RT dari rumah Pak Pandu, dan sedang melihat-lihat beberapa petak sawahnya.

Beberapa bulan berlalu. Rumah tua itu tak lagi berbau mistis. Tak ada lagi sesaji di sudut ruang. Tak ada lagi bau kemenyan terbuang. Pak Pandu benar-benar telah meninggalkan dunia perdukunannya. Kini, dia tidak hanya salat lima waktu dengan tertib, tapi juga rutin bangun di sepertiga malam untuk Tahajud, bahkaan kadang mengalahkan anak-anaknya.

Setiap pagi, pemandangan di lingkungan rumah itu berubah. Pak Pandu yang dulu identik dengan sarung dan aroma melati, kini mengenakan sepatu kets dan baju olahraga. Ia melakukan jogging ringan mengelilingi pekarangan rumah besarnya, menyapa tetangga sebagai seorang juraagan padi dan beras yang bugar, bukan lagi sebagai "orang pintar" yang disegani karena ‘kepinteran-mistis’-nya.

Kitab Mujarobat dan koleksi kerisnya kini telah disimpan rapat di lemari yang dikunci, bukan lagi sebagai benda yang dipuja, melainkan sekadar saksi bisu masa lalu yang telah dia lampaui.

Pak Pandu tersenyum lebar. Kini tubuhnya lebih bugar, jiwanya merdeka. Koleksi kerisnya menjadi murni sebagai artefak sejarah dan seni. Tersimpan rapi sebagai benda koleksi, bukan lagi sumber kekuatan aji banaspati. Eh, menjadi larik puisi. Hehe... Dia telah pulang ke rumah yang sebenarnya: rumah iman dan rasionalitas. Bukan lagi hamba setan, kebodohan dan irasionalitas.

Pagi dini hari, di rumah tua itu, beberapa hari terakhir seakan selalu dimulai dengan sebuah ritual tak kasat mata. Jauh sebelum pintu-pintu berukir gurat-lurus itu berderit dibuka oleh Pak Pandu, alam seperti telah lebih dulu menggubah nyanyian angkasa di atasnya. Rumah itu seperti dinaungi sayap-sayap malaikat.

Suatu nyanyian alam yang jujur. Melodi indah yang selama puluhan tahun sering kali kalah oleh aroma pekat kemenyan dan sunyi yang dipaksakan. Namun pagi ini, simfoni itu terasa lebih nyaring, seolah semesta sedang bersiap menyaksikan sebuah hati yang akan segera kembali kepada sumpah ketauhidannya waktu dulu di rahim sang ibunya.

 

@Arta’Latief, 090526
*Cerpen ini berdasarkan kisah nyata yang diimprov

 

Terbaru di Inspirasi
Lihat semua →
Pertemuan Sepasang Sayap Rindu
Pertemuan Sepasang Sayap Rindu
21 May 2026 · 4x
Hanya Amal yang Menemani
Hanya Amal yang Menemani
21 May 2026 · 10x
Lentera di Lembah Dosa
Lentera di Lembah Dosa
10 May 2026 · 29x
Janji Sumira
Janji Sumira
09 May 2026 · 536x
ARTI SEBUAH KELULUSAN
ARTI SEBUAH KELULUSAN
04 May 2026 · 112x
Taubatnya Sang Ustadz
Taubatnya Sang Ustadz
03 May 2026 · 67x
Resonansi Kali Code
Resonansi Kali Code
30 Apr 2026 · 63x
Elegi Penulis (Ed. Yogyakarta)
Elegi Penulis (Ed. Yogyakarta)
25 Apr 2026 · 58x